Belajar Menerima Kritik, Keterampilan yang Sering Terlupakan Selama Kuliah

Belajar Menerima Kritik, Keterampilan yang Sering Terlupakan Selama Kuliah

S

Penulis

Super Admin BEM

30 Jul 2026

Scroll

Belajar Menerima Kritik, Keterampilan yang Sering Terlupakan Selama Kuliah

Bandung — Kritik sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan. Bagi sebagian mahasiswa, komentar dari dosen saat presentasi, revisi tugas akhir, atau evaluasi ketika mengikuti organisasi dapat terasa sebagai penilaian terhadap kemampuan diri. Padahal, dalam dunia akademik maupun profesional, kritik merupakan bagian dari proses belajar yang tidak dapat dipisahkan.

Di lingkungan kampus, mahasiswa akan menghadapi berbagai bentuk umpan balik (feedback). Dosen memberikan koreksi terhadap laporan praktikum, pembimbing mengarahkan penelitian, sementara rekan satu tim menyampaikan pendapat mengenai hasil kerja bersama. Situasi tersebut sebenarnya menjadi ruang latihan untuk membangun kebiasaan menerima masukan secara objektif.

Menurut psikolog organisasi Sheila Heen dan Douglas Stone, penulis Thanks for the Feedback, banyak orang kesulitan menerima kritik bukan karena isi pesannya, tetapi karena cara mereka memaknainya. Kritik sering dianggap sebagai serangan terhadap pribadi, padahal dalam banyak kasus, yang dievaluasi adalah hasil pekerjaan, bukan nilai diri seseorang.

Kebiasaan menerima umpan balik secara sehat menjadi semakin penting ketika mahasiswa memasuki dunia kerja. Hampir setiap perusahaan menerapkan sistem evaluasi kinerja, baik melalui atasan, rekan kerja, maupun pelanggan. Karyawan yang mampu menerima masukan, memperbaiki kekurangan, dan menunjukkan perkembangan umumnya lebih mudah beradaptasi dibanding mereka yang selalu bersikap defensif.

Hal tersebut juga berlaku di lingkungan organisasi mahasiswa. Ketika sebuah acara tidak berjalan sesuai rencana, forum evaluasi sering kali menjadi ruang untuk membahas apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki. Tujuannya bukan mencari siapa yang salah, melainkan memastikan kesalahan yang sama tidak terulang pada kegiatan berikutnya.

Namun, menerima kritik bukan berarti harus menyetujui semua pendapat. Mahasiswa tetap perlu memilah masukan yang relevan, meminta penjelasan apabila ada hal yang belum dipahami, serta berdiskusi secara terbuka. Kemampuan membedakan kritik yang membangun dan komentar yang tidak berdasar juga menjadi bagian dari kedewasaan profesional.

Di tengah budaya media sosial yang sering mendorong pencarian validasi, kemampuan menerima evaluasi secara objektif menjadi keterampilan yang semakin penting. Kampus bukan hanya tempat memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk belajar mengembangkan karakter, termasuk kesiapan menghadapi kritik dengan sikap yang terbuka.

Pada akhirnya, seseorang berkembang bukan karena tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan karena bersedia belajar dari setiap masukan yang diterimanya. Di dunia kerja, kemampuan tersebut sering kali menjadi pembeda antara individu yang berhenti pada satu titik dan mereka yang terus bertumbuh sepanjang kariernya.