Jakarta — Pemerintah mulai mempercepat pengembangan industri semikonduktor sebagai bagian dari strategi memperkuat kemandirian teknologi nasional. Langkah tersebut ditandai dengan peluncuran program pelatihan nasional hasil kolaborasi antara Danantara Indonesia, perusahaan desain chip global Arm, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Program ini menargetkan pelatihan hingga 15.000 talenta Indonesia di bidang desain chip dalam beberapa tahun ke depan.
Semikonduktor merupakan komponen utama dalam hampir seluruh perangkat elektronik modern, mulai dari telepon genggam, komputer, kendaraan listrik, peralatan medis, hingga pusat data dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Selama ini, Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan komponen tersebut. Karena itu, pemerintah mulai membangun fondasi industri semikonduktor dari sisi sumber daya manusia sebelum memasuki tahap produksi yang lebih besar.
Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek menyebut program tersebut melibatkan mahasiswa, dosen, peneliti, lulusan baru, hingga profesional teknik. Pelatihan difokuskan pada penguasaan desain chip berbasis teknologi Arm, sekaligus memperkuat keterhubungan antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan kebutuhan industri nasional.
Pemerintah menilai pengembangan industri semikonduktor tidak dapat dilakukan hanya dengan membangun pabrik. Ekosistemnya membutuhkan dukungan riset, laboratorium, perguruan tinggi, hingga tenaga ahli yang mampu merancang intellectual property (IP) semikonduktor. Karena itu, penguatan pendidikan tinggi menjadi salah satu langkah awal yang dinilai paling strategis.
Bagi perguruan tinggi vokasi seperti Politeknik Manufaktur Bandung, perkembangan ini membuka peluang baru. Program studi yang bergerak di bidang teknik elektro, otomasi, mekatronika, maupun informatika memiliki keterkaitan erat dengan kebutuhan industri semikonduktor. Kompetensi seperti embedded system, desain perangkat keras, pemrograman sistem, hingga otomasi manufaktur diperkirakan akan semakin dibutuhkan apabila industri chip nasional terus berkembang.
Selain membuka peluang kerja baru, pengembangan industri semikonduktor juga berpotensi memperluas kolaborasi riset antara kampus dan industri. Perguruan tinggi dapat berperan dalam menyiapkan talenta, mengembangkan penelitian terapan, hingga menjadi mitra dalam pengembangan teknologi pendukung industri elektronik nasional.
Melalui penguatan ekosistem semikonduktor, pemerintah berharap Indonesia tidak hanya menjadi pasar produk teknologi, tetapi juga mampu berperan sebagai pengembang teknologi di masa depan. Keberhasilan langkah tersebut akan sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten.