Majalengka — Selama bertahun-tahun, Politeknik Manufaktur (Polman) Bandung dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi yang berfokus pada bidang manufaktur. Kini, arah pengembangan riset kampus mulai diperluas melalui penguatan kompetensi di bidang energi baru dan terbarukan, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan industri terhadap teknologi rendah emisi dan target transisi energi nasional.
Langkah tersebut diwujudkan melalui keterlibatan Polman Bandung dalam Renewable Energy Skills Development (RESD) Fase II, program kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Swiss yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia di sektor energi terbarukan. Dalam program ini, Polman memperoleh hibah laboratorium Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), menyelenggarakan pelatihan teknologi baterai dan Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA) bagi dosen, serta membuka Program Diploma IV Spesialisasi Energi Terbarukan.
Berbeda dengan laboratorium konvensional, fasilitas yang dikembangkan melalui program RESD tidak hanya digunakan sebagai media pembelajaran mahasiswa. Laboratorium tersebut juga diproyeksikan menjadi tempat pengembangan riset terapan mengenai sistem tenaga surya, penyimpanan energi, otomasi pembangkit, hingga integrasi energi terbarukan dengan kebutuhan industri. Melalui pendekatan ini, mahasiswa dapat terlibat langsung dalam proses pengujian teknologi yang memiliki potensi untuk diterapkan di lapangan.
Pengembangan riset energi terbarukan juga menunjukkan perubahan pendekatan pendidikan vokasi. Jika sebelumnya fokus utama berada pada proses produksi manufaktur, kini mahasiswa didorong untuk memahami bagaimana teknologi manufaktur dapat mendukung pembangunan sistem energi yang lebih efisien. Kompetensi seperti desain sistem kelistrikan, otomasi industri, teknologi baterai, hingga smart grid mulai menjadi bagian penting dalam pengembangan kurikulum dan penelitian.
Kampus II Polman Bandung di Majalengka dipilih sebagai pusat pengembangan bidang ini. Selain memiliki ruang untuk pembangunan fasilitas baru, lokasi tersebut dipersiapkan sebagai pusat pelatihan energi surya bagi mahasiswa, tenaga industri, guru vokasi, hingga masyarakat. Model ini memperluas fungsi kampus, tidak hanya sebagai tempat pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengembangan kompetensi di bidang energi bersih.
Bagi dunia industri, penguatan riset energi terbarukan membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Perusahaan tidak hanya membutuhkan teknologi baru, tetapi juga tenaga kerja yang memahami cara merancang, mengoperasikan, dan memelihara sistem energi modern. Dengan menggabungkan pengalaman panjang di bidang manufaktur dan pengembangan energi bersih, Polman Bandung berupaya membangun ekosistem riset yang lebih dekat dengan kebutuhan industri masa depan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa riset di perguruan tinggi vokasi tidak lagi terbatas pada penyelesaian persoalan di laboratorium. Semakin banyak penelitian diarahkan untuk menjawab tantangan nyata, mulai dari efisiensi energi, otomasi industri, hingga transisi menuju manufaktur yang lebih berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peran perguruan tinggi sebagai penghasil inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat maupun sektor industri.