Bandung — Kemajuan teknologi robotika dalam beberapa tahun terakhir berlangsung semakin cepat. Jika sebelumnya robot banyak digunakan untuk pekerjaan yang bersifat berulang di lini produksi, kini berbagai perusahaan teknologi mengembangkan humanoid robot, yaitu robot yang dirancang menyerupai bentuk dan cara bergerak manusia. Perkembangan ini membuka babak baru dalam penelitian robotika sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan sumber daya manusia untuk mengembangkan teknologi serupa di Indonesia.
Perusahaan seperti Boston Dynamics, Tesla, Figure AI, hingga Agility Robotics berlomba mengembangkan robot yang mampu berjalan, mengangkat barang, mengenali lingkungan, bahkan berinteraksi menggunakan bahasa alami. Di balik kemampuan tersebut, terdapat gabungan berbagai bidang ilmu seperti mekanika, elektronika, sistem kendali, kecerdasan buatan, pengolahan citra, hingga pembelajaran mesin (machine learning).
Di Indonesia, penelitian robotika juga terus berkembang melalui berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset. Meski sebagian besar masih berfokus pada robot pelayanan, robot pendidikan, robot pertanian, dan robot industri, arah pengembangannya menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu menciptakan sistem yang semakin adaptif terhadap lingkungan. Menurut BRIN, riset robotika nasional kini diarahkan pada teknologi yang memiliki manfaat langsung bagi sektor industri, kesehatan, kebencanaan, hingga pertanian.
Perkembangan tersebut mencerminkan perubahan cara pandang terhadap robot. Jika dahulu penelitian lebih banyak berorientasi pada perangkat keras (hardware), kini perhatian mulai bergeser ke perangkat lunak (software). Kemampuan robot memahami lingkungan, mengambil keputusan, dan bekerja secara kolaboratif menjadi fokus utama berbagai penelitian terbaru.
Bagi perguruan tinggi vokasi seperti Politeknik Manufaktur Bandung, perkembangan robotika membuka ruang kolaborasi lintas program studi. Mahasiswa mekatronika dapat merancang sistem mekanik, mahasiswa otomasi mengembangkan sistem kendali, sementara mahasiswa informatika mengembangkan perangkat lunak dan kecerdasan buatan yang menjadi "otak" robot. Pendekatan multidisiplin seperti ini semakin dibutuhkan seiring kompleksitas teknologi yang terus meningkat.
Meski Indonesia belum memproduksi humanoid robot dalam skala industri, peluang risetnya tetap terbuka lebar. Banyak teknologi yang digunakan pada robot modern, seperti computer vision, sensor, aktuator, hingga sistem navigasi, juga digunakan pada otomasi pabrik, kendaraan otonom, dan perangkat medis. Artinya, kemajuan riset robotika tidak hanya berdampak pada satu sektor, tetapi turut mempercepat inovasi di berbagai bidang lainnya.
Ke depan, tantangan terbesar bukan sekadar menciptakan robot yang mampu bergerak seperti manusia, melainkan membangun ekosistem riset yang mampu menghubungkan perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. Dengan dukungan kolaborasi yang kuat, Indonesia memiliki peluang untuk berkontribusi dalam pengembangan teknologi robotika yang sesuai dengan kebutuhan nasional, mulai dari manufaktur hingga pelayanan publik.