Bandung — Dua orang dapat mendengarkan lagu yang sama, tetapi merasakan pengalaman yang berbeda. Ada yang menganggap sebuah lagu biasa saja, sementara yang lain justru menganggapnya sebagai lagu yang selalu diputar ketika sedang merasa lelah, bahagia, atau merindukan seseorang. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa selera musik bukan hanya dibentuk oleh bunyi, melainkan juga oleh pengalaman hidup yang melekat pada setiap pendengarnya.
Penelitian di bidang psikologi musik menunjukkan bahwa preferensi seseorang terhadap musik dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari usia, lingkungan sosial, budaya, hingga kepribadian. Lagu yang didengar berulang kali pada masa remaja sering kali memiliki ikatan emosional yang lebih kuat dibanding lagu yang baru dikenal ketika dewasa. Tidak heran jika banyak orang tetap kembali mendengarkan lagu-lagu yang pernah menemani masa sekolah, perjalanan pertama ke luar kota, atau momen penting lainnya.
Di sisi lain, perkembangan layanan streaming turut mengubah cara orang menemukan musik baru. Algoritma pada platform digital mempelajari kebiasaan mendengarkan pengguna, kemudian menyusun rekomendasi berdasarkan pola tersebut. Akibatnya, seseorang dapat dengan mudah menemukan lagu yang sesuai dengan seleranya, tetapi di saat yang sama juga berisiko lebih jarang keluar dari "lingkaran musik" yang sudah dikenalnya.
Fenomena ini melahirkan dua kebiasaan yang berbeda. Ada pendengar yang senang mengeksplorasi berbagai genre (genre), mulai dari jazz, rock, klasik, hingga musik tradisional. Namun, ada pula yang merasa cukup dengan beberapa penyanyi atau daftar putar (playlist) yang sama selama bertahun-tahun. Keduanya merupakan bentuk preferensi yang wajar, karena cara setiap orang menikmati musik memang tidak selalu sama.
Selera musik juga sering menjadi bagian dari identitas. Bagi sebagian orang, musik menjadi cara untuk mengekspresikan diri atau menemukan komunitas yang memiliki minat serupa. Komunitas penggemar (fandom), festival musik, hingga konser menjadi ruang bertemunya orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal, tetapi dipersatukan oleh lagu yang sama. Di lingkungan kampus, hal ini terlihat dari banyaknya unit kegiatan mahasiswa di bidang musik, pertunjukan akustik, hingga acara pensi (pentas seni) yang selalu menghadirkan ruang bagi berbagai genre untuk dinikmati bersama.
Menariknya, tidak ada genre yang dapat disebut lebih "baik" dibanding genre lainnya. Musik klasik dapat memberikan ketenangan bagi sebagian orang, sementara musik metal justru menjadi pelepas penat bagi yang lain. Ada yang merasa produktif ketika belajar sambil mendengarkan lo-fi, ada pula yang lebih memilih suasana hening. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa musik bekerja secara sangat personal, dipengaruhi oleh pengalaman, kebiasaan, bahkan suasana hati pada saat tertentu.
Para peneliti juga menemukan bahwa selera musik dapat berubah seiring waktu. Lagu yang dahulu terasa biasa saja bisa menjadi sangat berarti setelah seseorang mengalami pengalaman tertentu. Sebaliknya, lagu yang dulu diputar setiap hari perlahan menghilang dari daftar putar karena tidak lagi memiliki keterikatan emosional yang sama. Perubahan ini menunjukkan bahwa selera musik berkembang bersama perjalanan hidup seseorang.
Pada akhirnya, memilih lagu bukan sekadar memilih irama atau lirik. Di balik setiap lagu favorit, sering kali tersimpan cerita yang tidak diketahui orang lain. Mungkin tentang perjalanan pulang, persahabatan, kehilangan, atau mimpi yang pernah diperjuangkan. Karena itulah, ketika seseorang berkata, "Ini lagu favoritku," yang sedang ia bagikan sering kali bukan hanya musik, melainkan juga sepotong kisah tentang dirinya.