Bandung — Sebuah tarian baru muncul di TikTok, beberapa hari kemudian memenuhi linimasa Instagram Reels dan YouTube Shorts. Di waktu yang lain, sebuah menu makanan mendadak ramai dibicarakan, diikuti antrean panjang di berbagai kota. Fenomena seperti ini menunjukkan betapa cepat sebuah tren menyebar di era media sosial.
Bagi banyak orang, mengikuti tren menjadi cara untuk tetap terhubung dengan lingkungan sosial. Konten yang sedang populer memberikan bahan percakapan, mempertemukan orang-orang dengan minat yang sama, bahkan menjadi media untuk mengekspresikan kreativitas. Namun, di sisi lain, derasnya arus tren juga melahirkan fenomena yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan khawatir tertinggal dari apa yang sedang dialami orang lain.
Di kalangan mahasiswa, FOMO dapat muncul dalam berbagai bentuk. Tidak hanya terkait konten media sosial, tetapi juga tempat nongkrong yang sedang populer, konser musik, gawai (gadget) terbaru, hingga berbagai tantangan yang ramai diperbincangkan. Media sosial yang menampilkan potongan-potongan kehidupan orang lain sering kali membuat seseorang merasa perlu ikut serta agar tidak dianggap ketinggalan.
Psikolog menjelaskan bahwa FOMO berkaitan dengan kebutuhan manusia untuk diterima dalam kelompok sosial. Keinginan tersebut merupakan hal yang wajar, tetapi dapat menjadi kurang sehat apabila mendorong seseorang mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan kondisi atau kebutuhannya, seperti membeli barang karena sedang viral (viral) atau mengikuti aktivitas hanya demi konten.
Menariknya, tidak semua tren bertahan lama. Banyak fenomena internet hanya bertahan beberapa minggu sebelum digantikan oleh tren berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa budaya digital bergerak sangat cepat, sementara perhatian pengguna media sosial terus berpindah dari satu topik ke topik lainnya.
Bagi mahasiswa, media sosial tetap dapat menjadi ruang yang positif apabila digunakan secara bijak. Mengikuti tren boleh saja, selama tidak menghilangkan kemampuan untuk memilih mana yang benar-benar memberi manfaat dan mana yang hanya bersifat sesaat. Kreativitas, informasi, dan hiburan tetap dapat dinikmati tanpa harus selalu merasa tertinggal dari orang lain.
Pada akhirnya, tren akan selalu datang dan pergi. Yang bertahan bukanlah tantangan yang sempat viral atau lagu yang mendominasi tangga musik, melainkan kemampuan setiap orang untuk menikmati perkembangan budaya digital tanpa kehilangan kendali atas pilihan yang diambil.