Majalengka, Senin (13/7) — Politeknik Manufaktur (Polman) Bandung resmi menjadi salah satu politeknik mitra dalam Renewable Energy Skills Development (RESD) Fase II, program kerja sama Indonesia–Swiss yang berlangsung sejak Oktober 2025 hingga akhir 2028. Momentum ini ditandai dengan peluncuran Program Diploma 4 Spesialisasi 1 Tahun Energi Terbarukan, penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Teknologi Baterai dan Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA), serta penerimaan hibah peralatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kampus II Polman Bandung, Kabupaten Majalengka.
Memasuki fase II, cakupan program RESD diperluas dengan melibatkan lebih banyak institusi pendidikan vokasi. Polman Bandung berperan dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang energi terbarukan melalui pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi dosen, serta penyediaan sarana pembelajaran.
Penguatan Kompetensi Dosen di Bidang Teknologi Strategis
Dalam implementasi proyek ini, Polman Bandung memfasilitasi peningkatan kapasitas dosen melalui pelatihan Teknologi Baterai dan SCADA — bertujuan memperkuat kompetensi tenaga pendidik agar mampu mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri energi terbarukan.
Direktur Polman Bandung, Darma Firmansyah Undayat, menegaskan bahwa pengembangan teknologi energi bersih membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi sesuai kebutuhan industri, sehingga pendidikan vokasi harus mampu menghasilkan lulusan dengan kemampuan praktis melalui pendekatan learning by doing.
"Teknologi baterai dan sistem SCADA merupakan kompetensi yang sangat strategis dalam pengembangan energi terbarukan. Teknologi baterai menjadi komponen utama sistem penyimpanan energi dan kendaraan listrik, sedangkan SCADA menjadi tulang punggung pengendalian dan pemantauan berbagai sistem industri modern, termasuk pembangkit energi terbarukan dan smart grid," kata Darma.
Kampus II Majalengka: Pusat Energi Baru dan Terbarukan
Darma menjelaskan bahwa Kampus II Polman Bandung di Majalengka dikembangkan sebagai pusat pendidikan vokasi yang berfokus pada manufaktur maju, otomasi industri, elektrifikasi, serta energi baru dan terbarukan. Melalui kemitraan RESD Fase II, kampus ini diharapkan berkembang menjadi pusat pengembangan kompetensi energi surya — tidak hanya mendukung pembelajaran mahasiswa, tetapi juga menjadi pusat pelatihan bagi tenaga kerja industri, guru vokasi, dan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Polman Bandung menerima hibah peralatan PLTS yang akan dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran untuk mendukung praktik mahasiswa dalam mempelajari teknologi energi surya.
"Kami berkomitmen mengelola hibah ini secara optimal agar menjadi investasi pendidikan yang memberikan dampak berkelanjutan bagi pengembangan teknologi energi terbarukan di Indonesia," ujar Darma.
Kelanjutan Kerja Sama Lebih dari Lima Dekade
Team Leader RESD, Dian Elvira Rosa, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia — melalui Kementerian ESDM, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta kementerian/lembaga terkait — dengan Pemerintah Swiss melalui SECO, untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia di bidang energi terbarukan.
RESD telah berjalan sejak 2020 dan kini memasuki fase kedua yang berlangsung hingga akhir 2028, dengan memperluas kemitraan bersama sejumlah politeknik dan lembaga pelatihan vokasi. Pada fase ini, program mendukung pengembangan kapasitas dosen, penyusunan kurikulum, penyediaan hibah peralatan PLTS, serta penguatan fasilitas pembelajaran teknologi baterai guna memperkuat ekosistem pendidikan vokasi energi terbarukan di Indonesia.
Dian menegaskan bahwa keterlibatan Polman Bandung dalam RESD Fase II merupakan kelanjutan dari hubungan kerja sama yang telah terjalin antara Pemerintah Swiss dan Polman Bandung selama lebih dari lima dekade.
"Selama lebih dari lima dekade, Pemerintah Swiss mendukung pengembangan Polman. Jika sebelumnya kerja sama berfokus pada sektor manufaktur, kini kolaborasi diperluas ke bidang energi terbarukan. Program ini dipusatkan di Kampus II Majalengka sehingga sangat tepat menjadi lokasi pengembangan kompetensi energi bersih," katanya.
Majalengka: Fondasi Baru bagi Pendidikan Vokasi Energi Bersih
Perwakilan RESD, Martin Stottele, menilai kemitraan Pemerintah Swiss dan Polman Bandung selama lebih dari 50 tahun menjadi fondasi penting dalam pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia. Menurutnya, pengembangan Kampus II Polman Bandung di Majalengka membuka peluang lahirnya program-program baru di bidang energi terbarukan, sehingga kolaborasi dalam RESD Fase II diharapkan semakin memperkuat kapasitas pendidikan vokasi nasional.
"Majalengka memiliki ruang dan potensi besar untuk mengembangkan program baru, terutama di bidang energi terbarukan. Pengalaman kami bekerja sama dengan Polman selama lebih dari 50 tahun memberikan keyakinan bahwa kemitraan ini akan terus menghasilkan dampak positif bagi penguatan pendidikan vokasi di Indonesia," ujar Martin.