Bandung — Politeknik Manufaktur (Polman) Bandung menyelenggarakan Sidang Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-49 yang dirangkaikan dengan pengukuhan guru besar pertama di lingkungan kampus. Momen ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan Polman sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi tertua di Indonesia, sekaligus menegaskan komitmen institusi dalam memperkuat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sidang terbuka dihadiri oleh perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, para guru besar dari berbagai perguruan tinggi, mitra industri, alumni, serta sivitas akademika. Dalam sambutannya, Direktur Polman Bandung menegaskan bahwa perjalanan hampir lima dekade institusi tidak terlepas dari kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan sektor industri yang selama ini menjadi fondasi pendidikan vokasi di kampus tersebut.
Momentum dies natalis juga menjadi ruang refleksi terhadap perjalanan Polman sejak berdiri sebagai Politeknik Mekanik Swiss (PMS-ITB) pada akhir dekade 1970-an melalui kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Swiss. Model pendidikan berbasis praktik yang diterapkan sejak awal kemudian berkembang menjadi ciri khas Polman Bandung dalam mencetak lulusan yang dekat dengan kebutuhan industri manufaktur.
Salah satu agenda utama pada peringatan tahun ini adalah pengukuhan guru besar pertama di lingkungan Polman Bandung. Kehadiran guru besar menjadi capaian penting bagi institusi vokasi karena mencerminkan berkembangnya kapasitas akademik, khususnya dalam bidang penelitian dan inovasi. Selain mendukung peningkatan kualitas pembelajaran, keberadaan guru besar juga diharapkan memperkuat kolaborasi riset dengan dunia industri serta meningkatkan kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan terapan.
Seiring bertambahnya usia institusi, Polman Bandung juga terus memperluas perannya. Selain menyelenggarakan pendidikan vokasi, kampus aktif menjalankan layanan rekayasa, produksi, konsultasi teknik, pelatihan industri, hingga pengembangan teknologi bersama mitra nasional maupun internasional. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara pendidikan, penelitian, dan kebutuhan sektor manufaktur.
Memasuki usia ke-49, tantangan yang dihadapi perguruan tinggi vokasi semakin kompleks. Transformasi digital, perkembangan kecerdasan buatan, manufaktur cerdas (smart manufacturing), hingga transisi menuju industri hijau menuntut institusi untuk terus beradaptasi. Melalui penguatan tata kelola, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan perluasan jejaring kerja sama, Polman Bandung berupaya mempertahankan perannya sebagai salah satu pusat pendidikan vokasi yang mendukung kemajuan industri nasional.